Feeds:
Posts
Comments

Tahapan Proses Inovasi Organisasi

Menurut Greenberg & Baron (2005) proses inovasi melalui lima tahap, yang melibatkan motivasi, aktivitas individu dan kelompok sumber daya dan skill. Proses inovasi ini dapat dilihat dari gambar berikut :

Tahapan Proses Inovasi Organisasi

Proses inovasi organisasi ini memiliki lima tahapan yaitu :

  1. Setting the agenda (penyusunan agenda), tahap ini melibatkan penciptaan pernyataan misi, dokumen-dokumen yang menjelaskan petunjuk-petunjuk organisasi dan tujuan umum. Pada tahap ini inovasi melibatkan motivasi.
  2. Setting stage (penyusunan langkah-langkah inovasi). Tahap ini diawali dengan mempersempit tujuan yang luas kedalam tugas-tugas khusus, pengumpulan sumber daya dan skill yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, dan melakukan penilaian lingkungan dalam dan luar organisasi.
  3. Producing the ideas (menghasilkan ide),. Pada tahap ini individu dan tim kreatif memasuki tahap yang rill. Skill dan motivasi akan membentuk kreativitas individu dan kelompok.
  4. Testing and implementing the ideas (pengujian dan implementasi ide) setelah kelompok-kelompok individu mengembangkan ide, dan membuat kreativitas dalam suatu kegiatan, selanjutnya ide dikembangkan menjadi sutau prototipe produk, diujikan ke pasar dan lakukan riset pasar untuk produk tersebut.
  5. Outcome Assesment (penilaian hasil), melalui riset pasar, dapat diketahui tanggapan pasar terhadap produk baru, diterima atau ditolak pasar.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Inovasi Organisasi

Menurut Grant (1999) inovasi organisasi yang dilakukan membutuhkan ide imajinasi, intuisi dan kreativitas. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menentukan keberhasilan inovasi organisasi yaitu :

  1. Iklim dan budaya kreatif
  2. Individu-individu yang tidak konvensional
  3. Pekerja yang memenuhi syarat dan kerjasama atas perusahaan
  4. Ukuran organisasi, sistem insentif, usia perusahaan dan sentralisasi kekuasaan
  5. Intensitas riset dan pengembangan
  6. Fleksibilitas organisasi
  7. Pengumpulan informasi eksternal
  8. Strategi, teknologi, manusia/budaya, struktur, manajerial dan lingkungan
  9. Identitas, proses kerja, penilaian situasi, akuntabilitas kolektif
  10. Gaya kepemimpinan yang bernilai kewirausahaan pemberdayaan anggota
  11. Fokus pada pelanggan dan pasar
  12. Jaringan Komunikasi Internal/eksternal
  13. Manajemen pengetahuan dan pengembangan
  14. Perbaikan terus menerus
  15. Adopsi teknologi

Pengukuran Inovasi Organisasi

Hasil inovasi organisasi menurut Jane C Linder (2006) dapat ukur dengan empat alat pengukuran yaitu ukuran efektivitas inovasi, ukuran dari 3M, ukuran proses, ukuran pertumbuhan dan ukuran yang berkonsentrasi pada laba. Penjelasan masing-masing alat ukur ini adalah sebagai berikut :

1. Jane C Linder (2006):ukuran efektivitas inovasi adalah :

  • Total return yang lebih baik kepada shareholder, kinerja yang tinggi yang secara
  • terus menerus diperbaharui misalnya :
  • Pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan
  • Memiliki paten yang lebih luas, dan paten komersial dengan cepat. (Penelitian
  • pada tujuh perusahan yang menghasilkan jumlah paten yang banyak.)

2. Ukuran menurut 3M (Linder : 2006)

Proporsi hasil penjualan produk yang diluncurkan tiga tahuin laluDampak inovasi pada waktu yang lalu Upaya penciptakan nilai, dan implementasinya. Penciptaan nilai organisasi yang direfleksikan dalam penjualan produk

3.  Ukuran Proses ( Linder : 2006)

  • Indeks nilai bisnis IT (ukuran peramalan bisnis dan dampaknya terhadap investasi IT)
  • Penyimpanan ide (mengukur apakah ide dikembangkan dan apakah diadopsi)
  • Keterikatan karyawan ( mengukur kekuatan dan komitmen karyawan).
  • Penyebaran keluasan paten
  • Milestone Hit rate
  • Kecepatan menanggapi pasar
  • Pendapat pemimpin sponsor
  • Produktivitas benchmark
  • Track record inovasi individu (penjualan dan profit dari peluncuran produk)
  • Customer up take modelling (meramalkan penerimaan konsumen terhadap
  • produk)
  • Share of wallet (pembagian perusahaan terhadap pengeluaran untuk konsumen)
  • Win lose analysis (penyebaran penjualan dibandingkan dengan pesaing)
  • Growth in revenue
  • Deal done ( jumlah penjualan yang telah dilakukan )
  • Growth in customer in per customer profit
  • Growth in enterprise profit Innovation of inventory impact (penyimpanan nilai yang diciptakan melalui inovasi)
  • Sosial value created (favorable societal outcomes, resulting from the organization s work)
  • Margin premium (kemampuan untuk meningkatkan penjualan sesuai dengan peningkatan persentase margin)

4. Ukuran pertumbuhan

  • Customer up take modelling (meramalkan penerimaan konsumen terhadap
  • produk)
  • Share of wallet (pembagian perusahaan terhadap pengeluaran untuk konsumen)
  • Win lose analysis (penyebaran penjualan dibandingkan dengan pesaing)
  • Growth in revenue
  • Deal done ( jumlah penjualan yang telah dilakukan )

5. Ukuran yang berkonsentrasi pada laba

  • Growth in customer in per customer profit
  • Growth in enterprise profit Innovation of inventory impact (penyimpanan nilai yang diciptakan melalui inovasi)
  • Sosial value created (favorable societal outcomes, resulting from the organization s work)
  • Margin premium (kemampuan untuk meningkatkan penjualan sesuai dengan peningkatan persentase margin)

Ukuran keberhasilan inovasi menurut Linder (2006) ini meliputi ukuran finansial (laba dan penjualan), ukuran keluasan paten, ukuran pasar ( penerimaan pasar), dan dampaknya terhadap perbaikan organisasi.

Pengetahuan (Knowledge)

Perusahaan kecil maupun besar membutuhkan suatu sistem yang dapat menampung semua pengetahuan yang dimiliki baik oleh perusahaan maupun sumber daya yang ada. Pengetahuan tersebut dapat berupa pengetahuan bersifat Tacit dan Explicit. Pengetahuan Tacit bersifat personal, dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan (Carrillo et al., 2004), sehingga sulit untuk dijadikan bahan pembelajaran. Contoh simpel pengetahuan tacit adalah bagaimana menuangkan pengetahuan akan. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang tersimpan dalam kepala manusia dan biasanya berbentuk pengalaman, pemahaman, prosedur how to (know how), dan sebagainya.

Sedang Pengetahuan Explicit bersifat formal dan sistematis yang mudah untuk dikomunikasikan dan dibagi (Carrillo et al., 2004). Dalam penerapannya Pengetahuan eksplisit lebih mudah diutarakan, didokumentasikan sehingga pengetahuan tersebut dapat disebarkan, dipelajari dan dipahami setiap karyawan secara mandiri. Contoh konkrit pengetahuan explicit adalah Standard Operational Procedure (SOP) perusahaan, ini adalah pengetahuan yang mudah untuk didokumentasikan dan alangkah baiknya semua peraturan, SOP dan yang berkaitan dengan job desk karyawan dapat didokumentasikan dan disosialisasikan dengan tepat.

Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management)

Dari terjemahan bahasa Indonesia dari Knowledge Management, dapat diartikan bahwa Manajemen Pengetahuan adalah suatu proses, mekanisme dalam mengelola suatu pengetahuan baik bersifat tacit maupun Explicit didalam suatu sistem. Sistem yang dapat digunakan untuk mengelola Manajemen Pengetahuan sudah banyak tersedia, baik yang open source maupun yang berlisensi. Semuanya dapat bermanfaat dalam mengelola pengetahuan, berbagi informasi, ajang berdiskusi, dan sebagainya.

Manfaat dari Manajemen Pengetahuan bagi perusahaan dapat dilihat dari beberapa sisi, diantaranya :

  1. Secara personal, karyawan dapat saling berbagi informasi, pengetahuan dan mencari solusi secara mandiri didalam suatu wadah pengetahuan.
  2. Proses, dari segiproses di bedakan memberikan kontribusi pada 3 hal, diantaranya :
  • Membantu perusahaan dalam menjalankan standarisasi peraturan dan kebijakan.
  • Efisiensi ; proses lebih efisien dengan cara meningkatkan produtifitas dan menghemat biaya diantaranya training, sosialisasi yang sebagian besar sudah dapat dilakukan didalam sistem Manajemen Pengetahuan.
  • Inovasi ; meningkatkan kebiasaan saling berbagi dan berdiskusi interaktif untuk mencari ide kreatif serta menangani suatu isu.

Manajemen Pengetahuan alangkah baiknya dilakukan disaat perusahaan sedang berkembang, sehingga semua yang ingin dikelola didalamnya masih belum terlalu kompleks dan lebih mudah dalam mengkategorisasikannya. Bagi perusahaan yang sudah besar dan berkembang, alangkah baiknya sebelum terlambat berpikir jauh kedepan akan manfaat dari Manajemen Pengetahuan bagi perusahaan itu sendiri. Perusahaan yang berkembang, biasanya diikuti dengan banyaknya inovasi dalam organisasi tersebut, baik inovasi proses, inovasi produk maupun inovasi prosedur yang ada. Semuanya ini perlu didukung oleh manajemen pengetahuan yang kuat agar dapat berjalan dengan baik.

Manajemen Pengetahuan merupakan cara untuk mempertahankan konsistensi keragaman ide, cara pandang dan pikiran individu. Secara global Manajemen Pengetahuan merupakan memori sekunder yang menyimpan seluruh ide pemikiran individu karyawan suatu perusahaan.

Tahapan utama yang dilakukan dalam mata rantai proses pengetahuan ini dapat diklasifikasikan dan disederhanakan menjadi 3 tahapan besar, yaitu :

  • Gathering

Mengumpulkan ide-ide pengetahuan baru

  • Storage and Organisation
  • Knowledge sharing

Korelasi Manajemen Pengetahuan dan Inovasi Organisasi

Proses inovasi banyak bergantung pada pengetahuan, terutama karena knowledge merepresentasikan suatu bidang (realm) jauh lebih dalam dari pada data, informasi dan logika konvensional, oleh karenanya, kekuatan knowledge terletak pada subjektivitasnya, yang mendasari value dan asumsi yang menjadi pondasi bagi proses pembelajaran (Nonaka dan Takeuchi, 1995). Dari pemahaman ini, dapat dikatakan bahwa Manajemen Pengetahuan serta sumber daya manusia merupakan elemen penting dalam menjalankan setiap bisnis. Namun demikian, banyak organisasi tidak konsisten dalam pendekatannya kepada Manajemen Pengetahuan, hal ini terjadi karena dipengaruhi dan banyak didominasi oleh kerangka teknologi informasi (IT) atau humanis (Gloet & Terziovski, 2004). Studi Gloet dan Terziovski (2004) menganjurkan para manajer di perusahaan manufaktur perlu memberi perhatian lebih banyak pada manajemen sumber daya manusia (HRM) ketika membangun strategi inovasi bagi inovasi produk dan proses. Manajemen Pengetahuan mendukung kinerja inovasi jika pendekatan simultan dari soft HRM practices dan hard IT practices diimplementasikan bersama-sama secara sinergi.
Manajemen Pengetahuan berkembang menjadi bidang kajian tersendiri dalam studi organisasi dan berperan signifikan dalam membangun competitive advantage (Nonaka, 1991; Nonaka & Takeuchi, 1995). Manajemen Pengetahuan memberi perhatian pada formalisasi akses kepada pengalaman, pengetahuan dan keahlian guna menciptakan kemampuan baru, mendukung kinerja unggul, mendorong inovasi, dan meningkatkan customer value (Beckman, 1999). Sementara itu, Coleman (1999) mendefinisikan Manajemen Pengetahuan sebagai sebuah payung bagi berbagai fungsi yang saling berketergantungan dan terkait satu dengan lainnya yang terdiri dari knolwedge creation; knowledge valuation dan metrics; knowledge mapping dan indexing; knowledge transport, storage dan distribusi; serta knowledge sharing.

Dari berbagai pendekatan Manajemen Pengetahuan menunjukkan adanya perluasan dari organisational learning dan sistem informasi bisnis, dan dua pendekatan ini dipengaruhi oleh IT paradigm dan humanist paradigm. IT paradigm fokus pada aspek tangible dari Manajemen Pengetahuan, seperti pengumpulan, penyimpanan dan pengolahan informasi, menggunakan metodologi yang secara implisit membentuk organisasi sebagai sebuah sistem pemrosesan informasi; sementara humanis paradigm lebih menekankan pada sifat pembelajaran dan peningkatan pengetahuan sebagai sumber daya organisasi, menyorot peran individu dan kelompok dalam proses penyebaran pengetahuan.
Sementara itu, elemen organisasi lainnya seperti infrastruktur memiliki kekuatan untuk memengaruhi sukses atau gagalnya Manajemen Pengetahuan di dalam organisasi. Elemen ini antara lain: budaya organisasi dan dukungan infrastruktur (Beckman, 1999; Zand, 1997; Quinn et al, 1997); dukungan manajemen dan kepemimpinan yang proaktif (Davenport, 1996; Beckman, 1999), pember-dayaan karyawan (Davenport & Prusak, 1998; Liebowitz & Beckman, 1998), memahami KM sebagai strategi bisnis (Ruggles & Holtshouse, 1999), ssaluran komunikasi yang kuat (Koulopoulos & Frappaolo, 1999), dan komitmen untuk membangun dan memertahankan iklim pembelajaran di dalam organisasi (Starbuck, 1997; Liebowitz & Beckman, 1998).

Inovasi berkaitan dengan pengetahuan yang dapat digunakan untuk menciptakan produk atau proses dan layanan/prosedur baru guna meningkatkan competitive advantage dan memenuhi kebutuhan pelanggan yang selalu berubah (Nystrom, 1990). Carnegie dan Butlin (1993) mendefinisikan inovasi sebagai “sesuatu yang baru atau ditingkatkan yang dihasilkan oleh perusahaan guna menciptakan nilai tambah yang signifikan baik secara langsung atau tidak langsung yang memberi manfaat kepada perusahaan dan atau pelanggannya”. Sementara itu, Livingstone et al (1998) melihat inovasi sebagai produk atau proses baru yang dimaksudkan untuk meningkatkan value. Dari lingkup definisi inovasi di atas, setidaknya ada empat mekanisme yang memberi kontribusi bagi inovasi yang dilakukan secara terus menerus, yaitu kapabilitas, perilaku, ungkit (lever) dan contingencies (Gieski, 1999).
Dalam format ideal, inovasi memiliki kapasitas meningkatkan kinerja, menyelesaikan persoalan, menambah value, serta menciptakan competitive advantage bagi organisasi (Gloet & Terziovski, 2004). Inovasi secara umum dapat dijelaskan sebagai implementasi penemuan (discoveries) dan hasil rekayasa serta proses yang menghasilkan keluaran (outcome) baru, apakah berupa produk, sistem atau proses (William, 1999). Lebih jauh, inovasi menempati posisi sangat penting dalam organisasi (Davenport & Prusak, 1998). Stewart (1997) menyatakan, Manajemen Pengetahuan dan modal intelektual berperan besar sebagai sumber inovasi, oleh karena itu strategi bisnis perlu memberi perhatian utama pada ketiga aspek ini (Manajemen Pengetahuan, intellectual capital, inovasi).

Sumber daya manusia dapat dilihat sebagai pendongkrak (lever) stratejik dalam penciptaan competitive advantage melalui value dari pengetahuan, ketrampilan dan pelatihan (Becker dan Gerhart, 1996). Di pihak lain, competitive advantage juga membutuhkan infrastruktur TI yang kuat di dalam organisasi (Davenport & Prusak, 1998; Zand, 1997). Guna memahami inovasi dengan lebih baik, manajemen harus memastikan bahwa inovasi menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya perusahaan (Cottrill, 1998).

Model Manajemen Pengetahuan yang didasarkan pada TI dan HRM merupakan instrumen yang dapat dipercaya dan valid bagi pengukuran dan memperkirakan hubungan antara praktek Manajemen Pengetahuan dengan kinerja inovasi. Selanjutnya, ada hubungan positif yang signifikan antara praktek Manajemen Pengetahuan yang didasarkan pada kombinasi TI/HRM dan kinerja inovasi, Dari dua pernyataan ini dapat disarankan bahwa organisasi perlu berupaya membangun pendekatan Manajemen Pengetahuan yang integratif guna memaksimalkan kinerja inovasi dalam upaya mencapai competitive advantage.

Knowledge and Management Information Research

Meneliti bagaimana kemampuan teknologi dapat dimanfaatkan oleh organisasi dalam mengejar daya saing pengetahuan mereka.

Meneliti isu-isu yang timbul dari upaya perspektif mengatasi masalah manajerial, sumber daya manusia, organisasi dalam pengenalan Manajemen Pengetahuan pada suatu organisasi

Menyelidiki cara dari proses asimilasi, penciptaan, komunikasi dan pemberlakuan knowledge management dikelola oleh organisasi.

Kesimpulan

Kemajuan dan perubahan kebutuhan pasar global, sering memaksa organisasi untuk beradaptasi dan melakukan suatu inovasi agar dapat bertahan dan bersaing dengan organisasi lainnya yang ada. Inovasi dalam organisasi dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian besar, yaitu inovasi produk, inovasi proses dan inovasi prosedur. Kesemua kelompok inovasi tersebut sama-sama mengarah dan berdampak kepada hasil total return organisasi yang lebih baik, penerimaan pasar, perbaikan organisasi itu sendiri.

Dari inovasi dalam organisasi yang sering terjadi ini, maka sangatlah dibutuhkan suatu manajemen pengetahuan untuk menampung semua informasi, saling berbagi informasi antar sumber daya manusia yang ada, mengenai inovasi yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Makalah ini dilakukan untuk meneliti manajemen pengetahuan serta arah dan tren yang ada bagi  inovasi organisasi tersebut.

Berdasarkan penelitian, dapat dilihat bahwa manajemen informasi dan manajemen pengetahuan adalah dua hal yang berbeda namun sering diasumsikan sama. Keduanya sama-sama mengelola informasi eksternal dan internal, namun manajemen pengetahuan lebih mengarah kepada pengelolaan pengetahuan dan saling berbagi informasi yang ada.

Dari penelitian Hard dan Soft yang dijabarkan, maka dapat disimpulkan bahwa tren yang ada pada organisasi adalah arahan teknologi pengetahuan sangatlah penting bagi inovasi organisasi, karena teknologi pengetahuan yang digunakan dapat lebih memberikan kontribusi kepada pengembangan sistem Manajemen Pengetahuan dimana akan merubah ‘passive’ knowledge repository menjadi ‘active’ learning environment. Manajemen pengetahuan diarahkan lebih kepada interaksi berbagi informasi, dan menjadi suatu wadah untuk saling belajar aktif bukan sekedar wadah penyimpanan informasi.

Sumber : kutipan tugas pribadi Priscilla Mulianto – 0932201592

Abstrak

Dalam pengembangannya, Manajemen Pengetahuan telah mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Begitu pula dirasakan oleh organisasi, tiap waktu tujuan dan arah organisasipun berubah menyesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan yang ada. Inovasi-inovasi dilakukan oleh organisasi dalam rangka dapat bertahan dan berkembang menghadapi kebutuhan dan persaingan yang semakin ketat. Inovasi yang dilakukan baik dari segi proses bisnis, produk, prosedur, struktur organisasi, sumber daya manusia, teknologi dan juga pengetahuan yang ada. Semua perubahan dalam organisasi adalah penting adanya, namun perubahan itupun haruslah diimbangi dengan pengetahuan yang berimbang. Inovasi akan terjadi secara terus-menerus, namun bagaimana organisasi dalam mengelola pengetahuan inovasi serta pengetahuan lainnya yang ada didalam organisasi. Maka dari itu, makalah ini akan lebih membahas bagaimana tren dan arahan penelitian manajemen pengetahuan (knowledge management) pada perubahan inovasi dalam organisasi.

Pengetahuan (Knowledge)

Perusahaan kecil maupun besar membutuhkan suatu sistem yang dapat menampung semua pengetahuan yang dimiliki baik oleh perusahaan maupun sumber daya yang ada. Pengetahuan tersebut dapat berupa pengetahuan bersifat Tacit dan Explicit. Pengetahuan Tacit bersifat personal, dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan (Carrillo et al., 2004), sehingga sulit untuk dijadikan bahan pembelajaran. Contoh simpel pengetahuan tacit adalah bagaimana menuangkan pengetahuan akan. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang tersimpan dalam kepala manusia dan biasanya berbentuk pengalaman, pemahaman, prosedur how to (know how), dan sebagainya.

Sedang Pengetahuan Explicit bersifat formal dan sistematis yang mudah untuk dikomunikasikan dan dibagi (Carrillo et al., 2004). Dalam penerapannya Pengetahuan eksplisit lebih mudah diutarakan, didokumentasikan sehingga pengetahuan tersebut dapat disebarkan, dipelajari dan dipahami setiap karyawan secara mandiri. Contoh konkrit pengetahuan explicit adalah Standard Operational Procedure (SOP) perusahaan, ini adalah pengetahuan yang mudah untuk didokumentasikan dan alangkah baiknya semua peraturan, SOP dan yang berkaitan dengan job desk karyawan dapat didokumentasikan dan disosialisasikan dengan tepat.

Informasi

Informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan mempunyai nilai yang nyata yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau keputusan-keputusan yang akan datang (Gordon B. Davis,1974).

Pengertian dari nformasi disebutkan bahwa pengumpulan atau pengolahan data untuk memberikan pengetahuan atau keterangan (Bruch dan Strater,1974). Sedangkan (George R. Terry, Ph.D,1962)  menyatakan bahwa informasi adalah data yang penting yang memberikan pengetahuan yang berguna.

Jadi, secara umum informasi adalah data yang sudah diolah menjadi suatu bentuk lain yang lebih berguna yaitu pengetahuan atau keterangan yang ditujukan bagi penerima dalam pengambilan keputusan, baik masa sekarang atau yang akan datang.

Organisasi

Organisasi adalah sistem yang mapan yang terdiri dari individu-individu yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama dengan adanya hirarki dan pembagian tugas. Organisasi terbentuk untuk mengatasi tugas dalam skala besar melalui hubungan manusia yang reguler.
Struktur organisasi ditentukan oleh beberapa hal yaitu :

1. Tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. (pre-determined goal)

Secara formal organisasi didirikan untuk meraih tujuan/target tertentu. Goal atau tujuan ini akan menentukan struktur dan juga fungsi dari organisasi tersebut.2. Peran-peran yang ditetapkan. (Prescribes Roles)

2. Tugas dalam organisasi ini didistribusikan pada berbagai posisi sebagai peran atau jabatan. Tugas ini adalah sekumpulan aktifitas yang harus dilakukan oleh seorang individu yang menempati posisi/jabatan tertentu. Posisi ini adalah ‘kotak’ dalam bagan organisasi. Jadi orangnya bisa berubah, jabatannya tetap sama. Yang terjadi adalah setiap orang yang mengisi posisi tersebut mereka diharapkan untuk mejalankan peran yang sama.

3. Struktur otoritas (Authority Structure)

Dalam organisasi formal, semua posisi/jabatan ini tidak memiliki otoritas yang setara/equal. Namun posisi disusun secara hirarki begitu pula struktur otoritasnya. Sehingga jelas siapa yang bertanggungjawab pada siapa.

4. Kaidah dan Peraturan

Suatu sistem formal akan terbentuk dari peraturan yang tertulis yang akan mengatur pembuatan keputusan dan aksi dari anggota organisasi. Untuk memastikan bahwa ada keseragaman dalam operasinya maka dibentuk kaidah-kaidah dalam misalnya untuk promosi, menerima anggota baru, untuk koordinasi pada berbagai aktifitas dll

5. Pola yang Informal

Setiap organisasi formal sebenarnya dapat ditandai dengan berbagai praktek informal, norma, dan relasi sosial antara anggotanya. Praktek informal ini menjadi bagian penting dalam organisasi. Walaupun niat awal dari birokrasi organisasi adalah untuk membuat hubungan personal itu sebisa mungkin menjadi formal/memiliki standar.

Melihat semua karakter ini, seolah organisasi itu sangat stabil dan jauh dari inovasi. Justru sebaliknya inovasi itu selalu terjadi dalam organisasi, karena sesungguhnya inovasi adalah salah satu proses fundamental yang terus berlangsung dalam organisasi.

Inovasi

Inovasi merupakan konsep yang terus berkembang dari waktu ke waktu.. Tren dari keberhasilan pada masa sekarang merupakan indikasi dari terwujudnya dampak inovasi. Inovasi banyak memberikan dampak terhadap kondisi organisasi maupun kreativitas dimana inovasi berasal, baik perorangan maupun organisasi, sehingga banyak perusahaan menciptakan situasi agar inovasi dalam organisasi tercipta

West (2000; 18), inovasi merupakan penerapan secara sengaja dalam suatu organisasai dari ide-ide baru, proses-proses, produk-produk, atau prosedur-prosedur baru bagi pekerjaan, tim kerja, atau organisasi.

Proses inovasi dalam organisasi ini tentunya didahului oleh proses pembuatan keputusan. Dalam organisasi, proses pembuatan keputusan ini akan lebih kompleks dari proses indiviu. Begitu pula dalam tahap implementasi, setelah diputuskan unutk mengadopsi suatu inovasi belum tentu implementasinya akan mulus karena melibatkan banyak invidual yang masing-masing menjalankan peran yang berbeda-beda.

Ada tiga tipe keputusan inovasi:

  1. Optional Innovation Decision: pembuatan keputusan ditingkat individu
  2. Collective Innovation Decision: Pembuatan keputusan secara kolektif
  3. Authority Innovation Decision : Pembuatan keputusan oleh sedikit individu yang memiliki kekuasaan, status tinggi atau keahlian teknis yang tinggi.

Dalam organisasi pembuatan keputusan inovasi ini selaluny terjadi secara kontigensi, atau gabungan dari collective dan authority, atau keputusan dapat diambil setelah ada keputusan menerima sebelumnya.

Tujuan Inovasi

Inovasi merupakan upaya mempertahankan keberadaan organisasi dalam lingkungan. Adanya inovasi organisasi ini diharapkan dapat menanggapi kompleksitas lingkungan dan dinamisasi perubahan lingkungan terutama dalam persaingan yang ketat dan menciptakan sumber-sumber bagi keunggulan bersaing. Hal tersebut dapat dicapai melalui

  1. Pengenalan teknologi baru
  2. Aplikasi baru dalam produk dan pelayanan
  3. Pengembangan pasar baru
  4. Pengenalan bentuk baru organisasi.

Keinovativan Organisasi

Urabe (1988), Mc Adam, et al (1998) dan Knox (2002), Inovasi organisasi sebagai suatu proses pengumpulan gagasan baru secara efektif dan menguntungkan dimana implementasiannya dalam bentuk produk baru, proses baru, dan sistem administrasi baru dalam rangka menyalurkan nilai pelanggan yang lebih baik dari pada pesaing.

Damanpour (1991), inovasi organisasi sebagai adopsi gagasan atau perilaku baru dalam organisasi seperti produk dan jasa baru, teknologi proses produksi baru, struktur dan sistem administrasi baru ataupun perencana atau program baru dalam organisasi.

Untuk mendalami makna inovasi organisasi, sebagai suatu perwujutan dari konsentrasi dalam membangkitkan Imajinasi oleh tim, maka unsur huruf yang membentuk kata dapat memberikan daya dorong dalam proses berpikir :

  1. Inisiatif mengandung arti sikap dan perilaku yang dikembangkan dalam proses berpikir untuk memulai sesuatu dengan menggerakkan alat pikir atas fungsi otak sebagai langkah awal membentuk pengetahuan dari pengalaman sebagai penelitian dasar.
  2. Nalar mengandung arti kemampuan menggerakkan alat pikir atas fungsi otak sebagai proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip untuk mengidentifikasikan penerapan potensi khusus pengetahuan sebagai penelitian terapan.
  3. Optimal mengandung arti kemampuan menggerakkan alat pikir atas otak pada semua kegiatan inisiatip dan nalar kedalam kondidi yang terbaik agar seluruh penerapan potensi yang teliti keda-lam model suatu proses dan atau produk sebagai pengembangan.
  4. Visualisasi mengandung arti kemampuan menggerakkan alat pikir atas otak untuk mewujudkan suatu pengembangan menjadi suatu kelayakan penggunaan sesungguhnya suatu model sebagai pilot plant testing.
  5. Aktivitas mengandung arti kemampuan menggerakan seluruh sumber daya yang tersedia secara produktif untuk membentuk suatu proses dan atau produk yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
  6. Sarana mengandung arti kemampuan mengerakkan segala sesuatu sebagai sarana untuk mewujudkan distribusi yang mengarah kepada segmentasi pemasaran yang tepat.
  7. Ilmu Pengetahuan Modern mengandung arti kemampuan memanfaatkan alat pikir atas otak dalam mengkoordinasikan tahapan penelitian dasar, terapan, pengembangan, pilot kedalam aktivitas yang terintergrasi dengan sumber daya yang terbatas berdasarkan landasan teori modern dan analisis bersistem terhadap data lapangan tertentu.

Perubahan yang terjadi akibat adanya inovasi dalam organisasi berdampak juga pada perubahan :

  1. Struktur organisasi
  2. Aturan-aturan organisasi
  3. Konstruksi sosial organisasi dalam masyarakat

Terkadang inovasi dalam suatu organisasi-pun bisa gagal atau tidak diterima. Beberapa alasan yang melandasi hal tersebut diantaranya :

  1. Teknologi yang diterapkan tidak tepat waktu.
  2. Terjadi kesalahpahaman persepsi terhadap inovasi.
  3. Tidak ada partisipasi penuh dari anggota organisasi.
  4. komunikasi yang tidak lancar.

Pengelompokkan Inovasi Organisasi.

Menurut Schumann, Jr, et al, (1994:9) inovasi dikelompokkan berdasarkan dua dimensi, yaitu berdasarkan bidang inovasi dan dampaknya terhadap organisasi. Berdasarkan bidangnya, inovasi organisasi terdiri dari:

  1. Inovasi produk. Pendapat ini menyatakan bahwa product innovation are those involving the function provided to customer (external or internal) of the form of function takes . Inovasi produk melibatkan fungsi-fungsi yang disediakan untuk pelanggan baik eksternal maupun internal dalam bentuk fungsi yang dapat berguna bagi pelanggan.
  2. Inovasi proses. Processed innovation are those that involve the way a product is developed, produced and provided and involved the interaction people with thing. Inovasi proses melibatkan cara suatu produk dikembangkan, diproduksi dan disediakan serta melibatkan interaksi manusia dan barang. Contoh inovasi proses ini adalah pengembangan proses pengolahan, sistem distribusi dan pengembangan produk.
  3. Inovasi prosedur. Procedure innovation ate those that involve the way in which product and prosesses are integrated into the operation of the organization. Inovasi produk melibatkan cara produk dan proses diintegrasikan dalam pelaksanaan organisasi. Contohnya, pengembangan metode pemasaran, metode administrasi dan syarat-syarat penjualan. Inovasi prosedur melibatkan cara manusia berinteraksi dengan orang lain.

to be continued

Sumber : kutipanTugas Pribadi Priscilla Mulianto – 0932201592

Dalam gambar diatas menggambarkan Secound Time Right.. Maksud dari Gambar tersebut menjelaskan bahwa :

Dengan mengsharing knowledge, Kita bertujuan semata-mata untuk memuaskan pelanggan, dimana dengan mensharing knowledge tersebut akan meningkatkan Quality dan Speed Performance.. Dimana nanti nya secara otomats akan memberikan kepuasan bagi pelanggan (customer satifaction)

Balance Scorecard

Kita sering mendengar mengenai Balance Scorecard, Balance Scorecard itu sendiri merupakan suatu wadah yang berfungsi sebagai alat pengukur kinerja dalam suatu perusahaan, dimana tolak ukur tersebut ditentukan oleh kita sendiri (si pemilik perusahaan)..

CobiT

Selain Balance Scorecard, ada yang dinamakan COBIT … Cobit tersebut memiliki kesamaan dengan Balance scorecard, dimana memiliki peran sebagai alat ukur bagi kinerja perusahaan.. namun Cobit memiliki perbedaan dibandingkan balance scorecard..
Cobit memiliki ukuran yang telah ada (telah dirancang sesuai Cobit itu sendiri) dan memiliki standart nya masing2, dan tentunya tidak dapat diubah layak nya Scorecard..

Dalam pembuatan Balance Scorecard, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. diantaranya, :
1. Harus mengetahui kearah mana perusahaan itu berkembang?
2. Seperti apakah tugas-tugas dalam perusahaan tersebut ?
3. Goal Company yang dimiliki perusahaan seperti apa ?
4. Perusahaan tersebut memiliki bisnis seperti apa dan kemana arah perusahaan tsb?
5. Dan siapa target dan strategi dari perusahaan tersebut ?

dengan mengikuti beberapa hal tersebut sehingga kita dapat mempermudah mengetahui tujuan akhir dari perusahaan tersebut …

Didalam Balance ScoreCard itu sendiri terdiri dari 4 Perspektif :

1. Perspektif Finasial : meliputi Pangsa pasar, Target pasar, Provit dari perusahaan.
2. Perspektif customer orientation : Dalam tahap ini kita melihat orientasi terhadap pelanggan untuk meningkatkan value dari perusahaan tersebut, dimana kembali lagi dengan semata-mata untuk menjamin kepuasan customer.
Contoh : Melakukan bisnis Cuci Mobil, apa bila pelanggan telah melakukan pencucian mobil di tempat tersebut sebanyak 10x, maka akan mendapatkan gratis 1x pencucian gratis..
3.Perspektif Internal Bisnis Proses : Tahap ini lebih melihat pada internalisasi perusahaan, dimana selaku perusahaan harus memastikan proses bisnis perusahaan tersebut berjalan dengan baik, sehingga customer pun merasa percaya terdapat nya.
Contoh :
Dalam Pembuatan suatu product, menggunakan sistem Six Sigma. Six Sigma tersebut memilki pengertian, bahwa didalam pembuatan suatu product, memiliki kesalahan yang sedikit , seperti dalam pembuatan 1juta mobile phone, dalam 1 juta product memiliki kecacatan product 6:1.000.000,-
4. Learning and Growth : Setiap orang di dorong untuk belajar agar tercipta nya suatu inovasi, dimana hal tersebut dapat juga di dukung dengan pemberian suatu reward khusus atas kinerja yang telah dihasilkan karyawan tersebut dalam menghasilkan suatu inovasi..

Balance Scorecard memiliki Manfaat, diantaranya :
1. Membantu evaluasi karyawan dari level Low sampai level Top.
2. Bisnis Proses Reengenering, maksdnya bahwa target dapat diganti sesuai keinginan.
3. untuk membuat tujuan strategic yang dulu masih kabur, menjadi lebih konkret, sehingga mempercepat proses pembelajaran organisasi.
4. Untuk mengukur kinerja perusahaan apakah mencapai target yang telah di tentukan.

Knowledge Goal : merupakan suatu aktifitas yang berfungsi untuk mengetahui sejauh mana perusahaan tersebut dapat dikatakan berhasil.

Dalam pembuatan KM ada hal yang wajib diperhatikan, karena suatu KM akan berhasil apa bila memiliki :

1. Komitmen : Memiliki keinginan untuk doing something)
2. Motivasi

Komitemen itu sendiri dibagi menjadi 3 bagian :

1. Komitmen by identifikasi : yaitu komitmen dimana kita telah mengidentifikasi keperluan yang dimiliki perusahaan, keperluaannya apa ? seperti apa saja ?
2. Komitmen Internalisasi : Komitmen yang telah ada didalam perusahaan dimana karyawan sangat membanggakan perusahaan yang ia tempati di dukung dengan komitmen tsb
3. Komitmen Compliance : Komitmen karena kebutuhan terpenuhi.

Motivasi pun dibagi menjadi beberapa bagian :

1. Intrinsic = Motivasi yang timbul karena kesenangan dari dalam diri sendiri
2. Extrinsic motivasi :
3. Introjected regulation : Motivasi yang tidak tertulis
contoh : seorang karyawan termotivasi disebabkan apabila tidak melakukan tugas dengan baik akan diberikan sangsi/ditegur secara terus menerut oleh atasan mrk.
4. Identifed Regulation : Motivasi yang timbul dikarena kan ada nya target yang telah ditentukan oleh perusahaan.. dimana seseorang karyawan mau tidak mau harus melakukan suatu pekerjaan / dpt diambil contoh seperti sharing post minimal 10 dalam 1 bulan …

Sumber : http://randyloveyou.blogspot.com/

Sejarah Perusahaan

Dalam waktu 4 tahun, pembuat Palmpilot assistant melihat personal digital pendapatan tumbuh dari $ 1 juta. Palm telah menikmati pertumbuhan yang sangat besar dan mendominasi pangsa pasar di pasar PDA, baik untuk hardware dan sistem operasi (os). Dalam umur yang cukup singkat perusahaan itu telah meluncurkan beberapa keluarga palmpilots. PALM 3, PALM 4, dan PALM 7. Setiap keluaran dari PALM dibedakan dalam hal estetika, fitur, kemampuan upgrade, dan harga, dan setiap PALM . Meskipun bentuk dan fungsi PDA bergeser cepat, satu tren secara keseluruhan jelas PDA yang semakin tipis dan lebih cepat. PALM didirikan sebagai pengembang perangkat lunak aplikasi , produk utamanya adalah perangkat lunak pengenal tulisan tangan. sejak itu, tetapi, fokus telah bergeser dua kali, pertama, untuk desain hardware dan kemudian ke sistem operasi PDA. pengalaman Microsoft pada PC sistem operasi pasar dengan jelas menunjukkan bahwa keberhasilan PALM sebagai pemimpin pasar tergantung pada pengendalian standar sistem operasi. Pada bulan Oktober 1999, Alan Kessler, Palm COO dari platform dan produk, menyatakan bahwa dalam jangka panjang, hardware yang di miliki palm dpat membuat keuntungan yang besar. Palmpilot memperkenalkan Generasi pertama oleh jeff Hawkind dan Donna dubinski di tahun 1996. pada saat itu, Hawkins miliki perusahaan startup nya sendiri, komputasi PALM, yang menghasilkan pengakuan perangkat lunak tulisan tangan graffiti untuk PDA. graffiti adalah perusahaan yang telah dirancang PDA tetapi gagal untuk memulai mereka, Banyak perusahaan tampaknya tidak mau tradeoff beberapa fitur potensi PDA, terkemuka dengan produk yang terlalu besar, mahal, atau keduanya. keengganan perusahaan PDA dini untuk membuat fitur trade-off itu diperparah oleh kenyataan bahwa ada konsensus sangat sedikit tentang fitur apa yang pelanggan akan pengorbanan dan apa yang mereka akan membayar. Sebagian besar PDA diluncurkan antara tahun 1989 dan 1994.

Struktur Organisasi

Struktur organisasi Palm dibagi berdasarkan target pasar, seperti personal user and enterprise, sebagai tambahan pada fungsinya seperti sales, marketing, supply chain operations, licensing and developer support, product development, dan platform engineering. Pada tahun 1999, Palm mempekerjakan 632 orang. Dua ratus lima puluh empat pada sales and marketing, 250 pada research and development, 67 pada customer support and activities yang terlibat dalam pengiriman produk dan jasa Palm, dan pengontrolan terhadap barang sisa melalui proses atau pekerjaan administratif.

Knowledge Goal

Normative : Tidak adanya budaya sharing knowledge, sehingga apabila terdapat karyawan yang berpotensi di dalam perusahaan dan meninggalkan perusahaan, perusahan dapat menggunakan knowledge yang dimiliki karyawan tersebut.

Strategic : Palm bergabung dengan pemain utama lainnya dalam industri teknologi untuk meyakinkan atau menjamin pengguna dari operating systemnya tersebar luas. Sebagai contoh, melalui aliansinya bersama dengan Sony, Palm dapat menciptakan sebuah versi operating system yang baru yang dapat bekerja dengan Sony’s memory Stick, sebuah data storage dalam ukuran kecil (panjangnya 1.5 inch dan tipisnya seperti bungkus permen karet) dan dengan kapasitas 8 sampai dengan 64 MB. Dengan kapasitas yang besar ini memungkinkan penyimpanan data multimedia.

Operational : Palm menggunakan banyak channel dalam mendistribusikan produk mereka. Di US, Palm Palm kebanyakan mendistribusikan produk mereka kepada distributor yang menjual kembali produk-produk terseut kepada retailer nasional atau kepada retailer besar di Internet. Palm juga menawarkan produknya pada iklan TV milik perusahaan lain (contoh, Palm VII ditayangkan pada iklan Fidelity’s PowerStreet). Peluncuran melalui media pers selalu digunakan untuk membentuk antisipasi terhadap produk Palm di masa datang. Palm memiliki empat pusat research dan development di Washington, Illinois, California, dan Perancis. Masing-masing pusat research dan development ini mengembangkan berbagai jenis komponen dari Palm Computing Platform.

Identikasi Knowledge

Knowledge Struktural : Palm memiliki divisi research and development yang berusaha untuk meng-upgrade operating system mereka setiap dua belas bulan. Divisi marketing dan divisi research and development bekerjasama terhadap market yang sedang berkembang dan berkelanjutan yang memperoleh feedback dari konsumen dan pengembang aplikasi membantu Palm untuk selalu dapat beruhubungan dengan keinginan atau permintaan pasar, sebagaimana demografi dan sosio-ekonomi yang selalu berubah. Divisi Ditribution channels, mendistribusikan Produk Palm secara internasional melalui 88 distributor Eropa, dan 23 distributor Asia. Pasar Jepang dilayani melalui cabang dari Palm, yaitu Palm Computing K.K. Cabang ini dapat mengatur, sales, distribusi , dan user and developer support di Jepang.

Knowledge Functional : Divisi marketing dan divisi research and development bekerjasama terhadap market yang sedang berkembang dan berkelanjutan yang memperoleh feedback dari konsumen dan pengembang aplikasi membantu Palm untuk selalu dapat beruhubungan dengan keinginan atau permintaan pasar, sebagaimana demografi dan sosio-ekonomi yang selalu berubah.

Knowledge Behaviour : Palm menyediakan pelatihan dan dukungan karyawan untuk membaut kinerja karyawan menjadi lebih baik.

 

Sumber : http://randyloveyou.blogspot.com/search/label/Kasus%20PALM%20Knowledge%20Management

Sejarah Bank Exim (Bank Ekspor Impor Indonesia)

Bank Ekspor Impor Indonesia (disingkat Bank Exim) adalah sebuah bank pemerintah yang pernah ada di Indonesia. Spesialisasinya adalah dalam bidang pembiayaan perdagangan. Bank ini dimerger dengan tiga bank lainnya (Bank Bumi Daya, Bank Pembangunan Indonesia, Bank Dagang Negara) pada Juli 1999 untuk membentuk Bank Mandiri. Sejarah Bank Ekspor Impor Indonesia berawal dari perusahaan dagang Belanda N.V. Nederlansche Handels Maatschappij yang didirikan pada tahun 1842 dan mengembangkan kegiatannya di sektor perbankan pada tahun 1870. Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan ini pada tahun 1960, dan selanjutnya pada tahun 1965 perusahan ini digabung dengan Bank Negara Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun 1968 Bank Negara Indonesia Unit II dipecah menjadi dua unit, Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Ekspor – Impor yang akhirnya menjadi Bank Exim, bank pemerintah yang membiayai kegiatan ekspor dan impor dan dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rural yang akhirnya menjadi Bank Rakyat Indonesia.

Knowledge Management (KM)
KM awalnya adalah sebuah pelatihan di bidang administrasi bisnis, sistem informasi, manajemen, dan perpustakaan dan ilmu informasi (Alavi & Leidner 1999).

Baru-baru ini, bidang lain sudah mulai berkontribusi untuk penelitian KM; ini mencakup informasi dan media, ilmu komputer, kesehatan masyarakat, dan kebijakan publik. Banyak perusahaan besar dan organisasi nirlaba memiliki sumber daya yang mengembangkan KM di internal mereka, dan sering menjadi bagian dari strategi bisnis mereka, teknologi informasi, atau manajemen departemen (Addicott, McGivern & Ferlie 2006). Beberapa perusahaan konsultan juga ada yang memberikan nasihat tentang strategi dan KM untuk organisasi-organisasi ini. KM biasanya fokus pada tujuan organisasi seperti peningkatan kinerja, keunggulan kompetitif, inovasi, berbagi pelajaran, integrasi dan peningkatan terus menerus organisasi. KM sejalan dengan pembelajaran organisasi, dan dapat dibedakan dari bahwa dengan fokus lebih besar pada pengelolaan pengetahuan sebagai aset strategis dan fokus pada mendorong berbagi pengetahuan. KM dapat membantu individu dan kelompok untuk berbagi wawasan organisasi, untuk mengurangi kerja berlebihan pada suatu hal yang dapat diatasi dengan KM, untuk menghindari pekerjaan yang sifatnya redundant, untuk mengurangi waktu pelatihan bagi karyawan baru, untuk mempertahankan modal intelektual sebagai turnover karyawan dalam sebuah organisasi, dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan pasar (McAdam & McCreedy 2000) (Thompson & Walsham 2004). Dari terjemahan bahasa Indonesia dari Knowledge Management, dapat diartikan bahwa KM adalah suatu proses, mekanisme dalam mengelola suatu pengetahuan baik bersifat tacit maupun Explicit didalam suatu sistem. Sistem yang dapat digunakan untuk mengelola KM sudah banyak tersedia, baik yang open source maupun yang berlisensi. Semuanya dapat bermanfaat dalam mengelola pengetahuan, berbagi informasi, ajang berdiskusi, dan sebagainya.

Manfaat dari knowledge management bagi perusahaan dapat dilihat dari beberapa sisi, diantaranya :

1. Secara personal, karyawan dapat saling berbagi informasi, pengetahuan dan mencari solusi secara mandiri didalam suatu wadah pengetahuan.

2. Proses, dari segiproses di bedakan memberikan kontribusi pada 3 hal, diantaranya :

* Membantu perusahaan dalam menjalankan standarisasi peraturan dan kebijakan.
* Efisiensi ; proses lebih efisien dengan cara meningkatkan produtifitas dan menghemat biaya diantaranya training, sosialisasi yang sebagian besar sudah dapat dilakukan didalam sistem knowledge management.
* Inovasi ; meningkatkan kebiasaan saling berbagi dan berdiskusi interaktif untuk mencari ide kreatif serta menangani suatu isu.

Knowledge Management alangkah baiknya dilakukan disaat perusahaan sedang berkembang, sehingga semua yang ingin dikelola didalamnya masih belum terlalu kompleks dan lebih mudah dalam mengkategorisasikannya. Bagi perusahaan yang sudah besar dan berkembang, alangkah baiknya sebelum terlambat berpikir jauh kedepan akan manfaat dari KM bagi perusahaan itu sendiri. Knowledge management merupakan cara untuk mempertahankan konsistensi keragaman ide, cara pandang dan pikiran individu. Secara global knowledge management merupakan memori sekunder yang menyimpan seluruh ide pemikiran individu karyawan suatu perusahaan. Knowledge management pada dasarnya tidak menggantikan berbagai operation strategy yang ada tetapi justru melengkapi dan mengembangkan konsep -konsep manajemen operasi seperti TQM, benchmarking, dan reengineering untuk meningkatkan core competence perusahaan. Knowledge management sangat bermanfaat bagi perusahaan antara lain dalam mengurangi cycle times processing, minimun fixed assets dan overhead (SDM, persediaan, dan fasilitas), memperpendek waktu pengembangan produk, meningkatkan customer service , memberdayakan SDM, inovatif dan mampu menawarkan produk dengan kualitas yang tinggi, meningkatkan fleksibilitas dan kemampuan adaptasi, memanfaatkan informasi,dan kemampuan perusahaan untuk share dan learn. Oleh karena itu, jika knowledge management diterapkan maka perusahaan akan menjadi learning organization, yaitu salah satu kompetensi yang sangat dibutuhkan dalam lingkungan pasar yang serba tidak pasti seperti sekarang ini.

Identifikasi Knowledge-Based Business di Bank Exim
Banyak perusahaan yang tidak mengenal knowledge management, namun secara tidak sadar telah melaksanakannya. Bank Exim sebagai perusahaan di bisnis perbankan yang ingin memperolah core competence-nya lewat teknologi dan melakukan pendidikan pegawainya ke jenjang S2, sebenarnya sudah mengarah kepada pola penerapan knowledge management. Untuk meneliti sejauh mana penerapan knowledge management di Bank Exim ada baiknya disimak apa yang dikatakan oleh Thomas H. Davenport and Laurence Prusak (1998), salah satu pakar knowledge management, sebagai berikut: “If you’ve got a good library, a textual database system, or even effective education programs, your company is probably already doing something that might be called knowledge management”. Jadi minimal ada 3 hal yang merupakan awal penerapan knowledge management di suatu perusahaan, yaitu jika perpustakaan dikelola dengan baik dalam arti lengkap sesuai kebutuhan, sistem informasi terpadu yang memuat informasi yang dibutuhkan, atau program pendidikan yang efektif. Jika melihat tiga indikator tersebut sebenarnya Bank Exim sudah memilikinya, walaupun belum sepenuhnya memenuhi syarat dalam knowledge management. Perpustakaan di Bank Exim saat ini sudah cukup memadai yaitu adanya ruangan yang luas, buku terdata dengan baik, dan jumlah buku dan majalah cukup banyak dan beragam. Saat ini jumlah buku di perpustakaan Bank Exim sebesar 7.300 buah yang terdiri dari buku-buku antara lain di bidang manajemen, keuangan, teknologi, internal control, hukum, international banking, marketing, dan sebagainya. Sementara itu, sistem informasi di Bank Exim juga telah dibangun secara permanen dengan dibentuknya Biro Sistem dan Teknologi. Fungsi Biro Sistem dan Teknologi dimaksudkan untuk menetapkan kebijakan, mengembangkan, mengoperasikan, dan memelihara sistem informasi manajemen Bank Exim serta memberikan bantuan teknis kepada pemakai sistem. Sampai saat ini, implementasi sistem informsi di Bank Exim terdiri dari:

1. Sistem-sistem cabang, yang meliputi Sistem Online Cabang (BEST atau Bank Exim Sistem Terpadu), Sistem Exim Tabanas, EximSave, dan International Banking System (IBIS) untuk cabang luar negeri.

2. Sistem-sistem Kantor Pusat, meliputi Executive Information System (EIS), Customer Product Information System (CPIS), Assets and Liabilities Management System (ALM), Head Office Accounting System, Financial Database, Personnel, dan Treasury System, Sistem Informasi Nasabah dan Produk (SNAP), Jaringan Internet Bank Exim.

3. Sistem-sistem cabang/Kantor Pusat, yang meliputi sistem yang digunakan kantor cabang dan Kantor Pusat yang dikelola secara terpusat di Kantor Pusat, melalui SWIFT, dan sebagian produk-produk Bank Exim seperti EximCash, EximPhone, EximSmart, dan EximBanking.

Untuk mengintegrasikan seluruh sistem tersebut Bank Exim menggunakan sarana komunikasi berupa VSAT, DOV, maupun leased line yang keseluruhannya tergabung di dalam jaringan EximNet dan dikelola secara terpusat melalui NCC (Network Control Center). Sistem informasi tersebut akhirnya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai produk yang bersifat knowledge-based (ATM, EximPhone, EximBanking, EximTransfer) dan mampu menyediakan data dan informasi bagi pengambilan keputusan manajemen Bank Exim. Program pendidikan mulai dari yang bersifat technical skill, human relation skill, conceptual skill, dan berbagai pendidikan non program lainnya telah dilaksanakan secara berkelanjutan di Bank Exim. Disamping itu, untuk pendidikan yangbersifat formal, seperti misalnya program pendidikan untuk strata dua (S2) Bank Exim telah menghasilkan sekitar 100 orang sarjana lulusan universitas dalam dan luar negeri. Namun demikian, ketiga hal tersebut belum cukup untuk menyebut Bank Exim sebagai knowledge enterprise atau intelligent enterprise. Nilai intangible asset Bank Exim (internal structure, external structure, dan competence of people) masih harus ditingkatkan baik yang menyangkut aspek people yaitu berupa perubahan human behavior, aspek proses, dan aspek teknologi.

Penerapan Knowledge Management di Bank Exim
Ada dua pandangan yang sedikit berbeda dalam penerapan knowledge management di suatu perusahaan. Kedua pendapat tersebut dikemukakan Brian Arthur seperti dikutip oleh Yogesh Malhotra (1997) dan Thomas H. Davenport and Laurence Prusak (1998) dengan mengemukakan sebagai berikut: Brian Arthur: “…the new world of knowledge-based business is characterized by -reeverything- involving continuous redefinition of organizational goals, purposes, and its -way of doing thing- “. Thomas H. Davenport and Laurence Prusak: “In deciding where to start your knowledge management program, try to use existing management approaches and tactics as levers to jump-start the knowledge effort. It’s also imperative to lead with a style that’s consistent with your firm’s culture. For example, if your firm is technology-based, build on technology initiatives and plans. If there is a big quality, reengineering, best practices or organizational learning initiative afoot, use those programs as your anchor”. Dari kedua pendapat tersebut sebenarnya terkandung pengertian bahwa jika memang visi, strategi, teknologi, proses, dan culture perusahaan dapat mendukung penerapan knowledge management maka perusahaan dapat langsung menerapkannya melalui infrastruktur perusahaan yang telah ada. Namun apabila sebaliknya, maka visi, strategi, dan culture harus diubah sesuai dengan karakteristik knowledge-based business. Hal ini disebabkan karena pendekatan manajemen operasi dari knowledge management sangat berlainan dengan proses bisnis pada umumnya yang lebih menekankan kepada tangible assets. Proses bisnis yang menekankan kepada pengelolaan input yang berbentuk intangible assets (terkandung knowledge di dalamnya), membutuhkan perhatian yang lebih besar kepada SDM, culture (kreatif dan inovatif, sharing, learning, networking), dan teknologi. Penerapan knowledge management di Bank Exim masih memerlukan penyempurnaan khususnya dalam hal strategi, culture, sistem SDM, dan utilization of technology. Sedangkan yang menyangkut proses tetap dapat mengikuti operasional Bank Exim saat ini baik di kantor cabang maupun Kantor Pusat. Branch Process Reengineering yang telah dilaksanakan di beberapa kantor cabang Bank Exim tetap dapat dijalankan. Bahkan dengan diterapkannya knowledge management diharapkan proses bisnis Bank Exim akan lebih cepat dan efektif. Strategi Bank Exim khususnya yang menyangkut hubungan Bank Exim dengan nasabah harus disempurnakan. Salah satu unsur intangible assets, yaitu external structure harus lebih digali dan dikembangkan sebagai feedback untuk meningkatkan pelayanan kepada nasabah (excellent services atau big service quality). Hal ini antara lain bisa dilaksanakan dengan pertama, mengadakan Hotline Service Bank Exim (customer care, call center, dan sebagainya) yang intinya berusaha menggali permasalahan nasabah, mengetahui kebutuhan dan keinginan nasabah yang dicatat melalui sistem informasi/database (gain knowledge from customer). Setelah informasi diperoleh kemudian dikembangkan (informasi diubah menjadi knowledge) untuk meningkatkan mutu produk dan jasa Bank Exim. Kedua, Bank Exim selain memberikan kredit juga berfungsi sebagai financial adviser bagi debitur (offer customers additional knowledge). Bank Exim dapat memanfaatkan knowledge-nya untuk diberikan kepada debitur secara gratis, misalnya mengenai kondisi dan trend industri perusahaan debitur. Budaya perusahaan Bank Exim harus dikembangkan menjadi budaya yang menekankan kepada perilaku yang inovatif, kreatif, sharing knowledge, dan learning. Selain itu juga harus didukung oleh sistem SDM yang mendukung munculnya budaya tersebut. Hal tersebut digunakan untuk menciptakan iklim bekerja di Bank Exim yang memungkinkan munculnya internal structure dan competence of people. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan cara mendorong pegawai Bank Exim untuk gemar membaca dan menulis di majalah dan jurnal-jurnal bisnis (learning dan tacit knowledge), mendorong sharing knowledge di antara pegawai, dan mendorong pegawai untuk melakukan risk taking (misalnya berani mengemukakan pendapat) sesuai knowledge yang dimiliki, dan mendorong adanya kerja tim baik formal maupun informal. Kegiatan tersebut harus didukung oleh sistem SDM yang lebih bersifat knowledge-based, yaitu menekankan kepada investasi SDM dan memberi reward pegawai yang telah melakukan sharing knowledge. Peran teknologi informasi sangat penting di dalam menggali intangible asset. Teknologi informasi di Bank Exim diharapkan tersedia secara lebih luas (available), user friendly, dan berorientasi pasar, agar informasi yang ada dapat digunakan oleh seluruh pegawai dan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pengetahuan (knowledge creation) yang memacu timbulnya kreatifitas dan inovasi di Bank Exim. Sistem-sistem yang ada yang secara langsung dapat digunakan oleh hampir seluruh pegawai, misalnya SNAP dan jaringan internet, hendaknya disempurnakan dan dimanfaatkan secara optimal. Hal ini akan meningkatkan knowledge pegawai Bank Exim.

Kesimpulan
Pada era 1990-an, dimana Knowledge management barulah berkembang dan dikenal dunia sebagai suatu konsep yang dapat mendukung proses bisnis dan perkembangan bisnis suatu perusahaan. Banyak perusahaan besar dan organisasi nirlaba memiliki sumber daya yang mengembangkan KM di internal mereka, dan sering menjadi bagian dari strategi bisnis mereka, teknologi informasi, atau manajemen departemen (Addicott, McGivern & Ferlie 2006). Beberapa perusahaan konsultan juga ada yang memberikan nasihat tentang strategi dan KM untuk organisasi-organisasi ini. KM biasanya fokus pada tujuan organisasi seperti peningkatan kinerja, keunggulan kompetitif, inovasi, berbagi pelajaran, integrasi dan peningkatan terus menerus organisasi. KM sejalan dengan pembelajaran organisasi, dan dapat dibedakan dari bahwa dengan fokus lebih besar pada pengelolaan pengetahuan sebagai aset strategis dan fokus pada mendorong berbagi pengetahuan. Dengan melihat tren yang ada serta perkembangan bisnis perbankan yang ada di Indonesia, memaksa Bank yang sudah lama beroperasi di Indonesia untuk dapat bertahan dan melakukan inovasi. Inovasi dapat dilakukan baik product-based maupun knowledge-based. Inovasi yang ditekankan oleh Bank Exim lebih kepada penerapan inovasi pada knowledge-based nya. Dimana banyak inovasi sistem informasi, kultur dan budaya, sumber daya manusia. Titik berat inovasi knowledge management ini dipilih karena merupakan penyokong kesuksesan daripada bisnis perbankan di Bank Exim. Dengan menginvestasikan pengetahuan dan sumber daya, serta didukung oleh budaya berbagi pengetahuan dan teknologi, maka fondasi aset dan bisnis Bank Exim menjadi solid. KM pada Bank Exim membantu SDM untuk berbagi wawasan organisasi, untuk mengurangi kerja berlebihan pada suatu hal yang dapat diatasi dengan KM, untuk menghindari pekerjaan yang sifatnya redundant, untuk mengurangi waktu pelatihan bagi karyawan baru, untuk mempertahankan modal intelektual sebagai turnover karyawan dalam sebuah organisasi, dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan pasar bisnis yang ada. Dengan metode seperti ini, Bank Exim dapat bertahan dalam strategi informasi kepada pelanggan dan SDM yang ada.

Referensi

http://www.museummandiri.co.cc/2010/05/bank-ekspor-impor-indonesia-bank-exim.html

Davenport, Thomas H. and Laurence Prusak (1998), Working Knowledge: How Organization Manage What They Know,USA: Harvard Business School Press, http://www.brint com (book review).

Davis, Stan and Jim Botkin (1994), “The Coming of Knowledge-Based Business”,Harvard Business Review, September- October.

Hamel, Gary and CK Prahalad (1994), Competing For The Future, USA: Harvard Business School Press.

Krajewski, Lee J. and Larry P. Ritzman (1996), USA: Operation Management: Strategy and Analysis, Addison-Wesley Publishing Company.

Malhotra, Yogesh (1996), “Organizational Learning and Learning Organization: An Overview”, http://www.brint.com

Malhotra, Yogesh (1997), “Knowledge Management for the New World of Business”, http://www.brint.com

http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian%5CAgunan-1.pdf http://www.tempo.co.id/ang/min/03/02/ekbis2.htm

Addicott R & Ferlie E (2006) “A Qualitative Evaluation of Public Sector Organizations: Assessing Organizational Performance in Healthcare “, Cambridge University Press

Alavi, Maryam; Leidner, Dorothy E. (1999). “Knowledge management systems: issues, challenges, and benefits”. Communications of the AIS 1 (2).http://portal.acm.org/citation.cfm?id=374117

Thompson, Mark P. A.; Walsham, Geoff (2004). “Placing Knowledge Management in Context”. Journal of Management Studies 41 (5): 725–747. doi:10.1111/j.1467-6486.2004.00451.x. http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=559300.

McAdam, Rodney; McCreedy, Sandra (2000). “A Critique Of Knowledge Management: Using A Social Constructionist Model”. New Technology, Work and Employment 15 (2). http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=239247..

Berca tengah bersiap meluncurkan produk WiGO yang merupakan layanan internet berbasis 4G Wimax di Indonesia. Layanan ini digadang-gadang memungkinkan pengguna menikmati layanan broadband berkecepatan tinggi secara konstan. Menurut Berca, teknologi yang diusung 4G Wimax dapat membuat operator memberikan garansi Quality of Service (QoS) kepada pengguna, dimana hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh layanan broadband lainnya. “Dengan adanya keunggulan tersebut, 4G Wimax menjadikan pengguna bisa memanfaatkan koneksi data secara intensif, seperti pada aktivitas streaming video dengan kualitas High Definition (HD) ataupun memainkan game online yang menuntut bandwidth berkecepatan tinggi,” tukas Berca, dalam keterangannya, Senin (20/9/2010). WiGO akan mulai tersedia di Medan dan Balikpapan pada Oktober 2010, selanjutnya menyusul Batam dan kota-kota besar lain di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara. Pada 2009, Berca mendapat lisensi untuk mengoperasikan Broadband Wireless Access (BWA) di frekuensi 2.3 GHz dengan lebar pita sebesar 30 MHz. Layanan ini mencakup 8 zona yang tersebar di sebagian besar daerah-daerah di luar Jawa, yakni Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bagian Selatan, Bali dan Nusa Tenggara. “Dengan hadirnya WiGO yang menyediakan layanan broadband nirkabel 4G Wimax, diharapkan bisa mengurangi kesenjangan digital dan bisa berperan dalam upaya pencerdasan kehidupan masyarakat, yang mana pada akhirnya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat di luar Jawa,” pungkas Murdaya Widyawimarta Poo, Chairman Berca Group. ( ash / rns )

*disadur Detikinet

Grup Berca merupakan produsen pakaian dan peralatan olah raga berbagai merek terkemuka diantaranya  NIKE, AND1, Umbro, mulai mencoba memperluas usahanya dengan coba membuat konsep usaha baru, yaitu dengan membuat brand sepatu olah raga lokal. Sepatu olah raga asli Indonesia ini, dibuat dengan nama League, diharapkan dapat bersaing dan berlaga dengan produk olah raga lain yang sudah lebih dulu berkecimpung di Indonesia pada khususnya.

Konsep League adalah paduan antara sport (60%) dan gaya hidup (40%) sehingga diharapkan dapat menjangkau pasar olah raga dan juga non-olah raga. Dari sisi harga, di atas harga merek lokal tetapi di bawah merek internasional (Adidas, Nike, Fila, dll). Segmen pasar yang ingin dibidik oleh League adalah segmen pasar menengah dengan membidik usia antara 15-35 tahun, khususnya mahasiswa dan eksekutif muda. Karena bahan bakunya 60% merupakan bahan baku lokal dan 40% sisanya adalah bahan baku impor maka harga produksinya dapat ditekan dan harganya pun mudah dijangkau karena  disesuaikan dengan target pasar menengah, Rp 199,000 – Rp 449,000.

Fokus utama produk League adalah sepatu atletik yang dirancang khusus untuk olahraga atau digunakan untuk rekreasi. League juga mulai memperluas produknya dengan menjual pakaian atletik dengan merek dagang yang sama. Di antara produk baru yang di tawarkan, meliputi berbagai macam bidang kegiatan olahraga, diantaranya:

basket,

casual,

running,

soccer/futsal,

indoor badminton dan

koleksi sepatu olah raga anak

Setelah cukup bermain di produk sepatu, akhirnya Grup Berca memutuskan untuk mendiversifikasikan produknya. Mereka mulai membuat produk mulai kaos, aksesoris olah raga seperti tas, tempat minum, topi, dan sebagainya. Yang paling mengagumkan adalah dapat konsen dalam satu induk jenis prodduk yaitu produk olah raga dan semua tetap menggunakan satu merk “League”. Seiring dengan perkembangan tersebut, League mulai membuat branding baru, positioningnya sebagai “Sepatu lokal berkualitas” dan kemudian memiliki brand yang lebih dikenal dengan “Lead the Way”.

POSITIONING PRODUK NIKE

Usaha yang dilakukan Hartati Murdaya, pemilik Grup Berca, dalam menjalankan usaha sepatunya terus dikembangkan. Tidak hanya memproduksi produk merek luar negri tetapi keinginannya untuk mengedepankan produk lokal sangatlah dipandang sebelah mata oleh para pengusaha lain. Namun usaha dan jerih payah Grup Berca dalam menempatkan diri pada pasar dalam negripun tidaklah sia-sia.

Dengan peningkatan penjualan merek League, penambahan toko, dan kerjasama dengan distributor. Kami optimistis omset tahun 2008 dapat mencapai Rp250 miliar.

Selain 100 outlet yang telah dimiliki Grup Berca yang menjual sepatu olah raga merek internasional, Ke depan, outlet khusus League akan terus dikembangkan. Sampai akhir Desember 2008 sudah dibuka tiga outlet, di Pondok Indah Mall I, Puri Indah Mall, dan Citraland Mall. Masing-masing outlet saat ini mencapai omset rata-rata Rp20-30 juta per hari. Meski harga League hanya seperempat dari harga tiga merek lain, Budi optimis omset tidak akan berubah, bahkan terus meningkat. Sebab, dengan kualitas yang sama, diharapkan kuantitas penjualan akan meningkat.

Di sisi lain, dengan penurunan produksi sepatu Nike, Grup Berca akan meningkatkan terus produksi sepatu League. Saat ini produksi sepatu League baru 10% dari kapasitas pabrik. Kapasitas pabrik sendiri saat ini mencapai 100 ribu pasang sepatu per tahun. Pada tahun 2008, produksi League meningkat hingga 20% dari kapasitas produksi pabrik. Setiap tahun akan terus meningkat, hingga produksi League mencapai 50% dari kapasitas produksi pabrik.

Setelah menjadi perusahaan produsen sepatu olah raga, Grup Berca tetap melakukan usaha-usaha lain yang mendukung kesuksesan League. Fokus pada spesifikasi atau image yang dibentuk dari pertama kali muncul, League memiliki image sebagai invent dari produk sepatu olahraga kelas menengah dan dipandang sebelah mata karena produksi dalam negri. Namun seiringnya waktu, League sudah tidak dianggap sebelah mata oleh para konsumen Indonesia, karena kualitas dan harga yang mudah dijangkau konsumen Indonesia. Dan hal ini membentuk positioning produk League itu sendiri.

Positioning berguna untuk membedakan tawaran yang diberikan produsen dengan membangun sejumlah keunggulan bersaing yang menarik perhatian dalam segmen tertentu. Tugas positioning terdiri dari tiga langkah, yaitu mengidentifikasi sejumlah keunggulan bersaing yang dapat dijadikan dasar untuk membangun posisi, memilih keunggulan bersaing yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk membangun posisi, memilih keunggulan bersaing yang tepat, dan memilih suatu strategi positioning produk secara menyeluruh.Grup Berca kemudian harus secara efektif mengkomunikasikan serta menyampaikan posisi yang dipilih kepada pasar.

Untuk menekan biaya produksi League memiliki strategi dengan melakukan produksi di Indonesia sebab biaya buruh masih terbilang murah serta strategi perpaduan menggunakan bahan baku lokal dan impor yang dikombinasikan.

STRATEGI MEREK PRODUK LEAGUE

League menganut diversifikasi monolitik, dimana semua produk turunannya terkonsentrasi terhadap induk perusahaan, yaitu tetap menggunakan nama League untuk semua produk turunannya. Pada awalnya, sebagai perusahaan sepatu, League membranding produknya dengan positioning “Sepatu lokal berkualitas” dan “lead the way”.

Kegiatan branding tersebut di dukung dengan konsep komunikasi pemasaran yang bagus dan terstruktur. Dari awalnya, League melakukan pemasaran ke di setiap peertandingan. Melalui komunikasi pemasaran yang tidak sembarangan.

2004
Sebagai sponsor resmi kontingen atlet Indonesia di Olimpiade di Athena – Yunani dan tim basket DKI Jakarta dan tim sepak bola Papua di PON XVI Palembang.

2005
League sebagai seragam resmi kontingen SEA GAMES di Phillipina.

2006
League sebagai sponsor apparel dari Indonesian Basketball League (IBL)

2008
League memsponsori tim basketball, CLS Knights – sebagai duta dari merek League untuk komunitas basket, khususnya di Surabaya.

Oktober – Desember 08, League juga mensponsori pakaian dan sepatu untuk turnamen futsal antar mahasiswa yaitu Liga Futsal Mahasiswa (LIFUMA) seJADEBOTABEK, yang diikuti oleh 24 universitas terbaik.

League mencoba membranding produknya dengan citra yang tinggi. Menjangkau pasar yang tepat dalam memasarkan dan memperkenalkan produknya.

STRATEGI MARKETING

Strategi marketing yang dilakukan Grup Berca untuk memasarkan produk lokal buatannya lebih banyak melakukan pemasaran grass road underground. Maksudnya, dengan mensponsori kegiatan olah raga di SMU dan perguruan tinggi tertentu, serta event-event olah raga nasional dan sudah banyak terobosan baru dengan memasarkan produknya  di pusat perbelanjaan besar.

Kekuatan Grup Berca adalah pada jaringan ritel sepatu sport dan pengalaman dalam membuat sepatu League. Grup Berca sadar untuk pasar luar negeri karena membangun merek sendiri tidaklah mudah. Pasar sepatu sport dan fashion sangat kompetitif. Butuh terobosan yang kuat untuk membangun komunitas, agar mendorong target pasarnya membeli untuk yang pertama kali. Promosi produk League harus berani dan bersifat terus-menerus.

SEGMENTASI LEAGUE

Pemasaran segmen menawarkan beberapa manfaat yaitu perusahaan dapat memasarkan barang dan jasanya secara lebih efisien dalam membidikkan produk dan jasa. Perusahaan juga dapat memasarkan produknya dengan lebih efektif dengan menyesuaikan harga, produk, dan program komunikasinya bagi segmen-segmen yang telah dipilih. Beberapa variabel yang biasa digunakan untuk mensegmentasi pasar, adalah:

Geografi, dengan membagi pasar menjadi unit-unit geografis yang berbeda-beda sperti negara bagian, wilayah, maupun kota.

Bagi League, segmentasi berdasarkan Geografis ditujukan kepada kota-kota dipropinsi yang tingkat kebutuhan dan daya beli yang lebih besar dibandingkan kota-kota lainnya. Namun tidak tertutup kemungkinan League akan merambah ke desa-desa guna mensosialisasi dan memperluas pasar.

Pendapatan

Pendapatan dari konsumen/pasar perlu diperhatikan, untuk memiliki barang League, tidaklah perlu konsumen yang berpenghasilan besar, karena harganya yang terjangkau, mencapai 1/3 harga dibanding merek internasional (Nike, Umbro, dll).

Psikografis, membagi konsumen manjadi kelompok-kelompok yang berbeda berdasarkan kelas sosial, gaya hidup, atau karakteristik kepribadian.

League ditargetkan untuk pasar/konsumen yang mementingkan gaya dan penampilan. Karena didesain mengikuti kebutuhan dan tren yang ada, maka League menempatkan posisi pada segmentasi pada konsumen dengan gaya hidup yang cukup tinggi serta kelas sosial menegah sampai menengah keatas. Namun pada kenyataannya League masih dalam posisi dibawah saudaranya, NIKE dan AND1 serta Umbro dalam hal segmentasi Psikografis konsumennya.

Perilaku, membagi konsumen berdasarkan pengetahuan, sikap, kegunaaan, atau tanggapan suatu produk.

League menempatkan posisi pada segmentasi konsumen yang mengedepankan bangga terhadap produk dalam negri dan cinta produk dalam negri. Konsumen tersebut sangatlah mendukung kemajuan dan perkembangan bisnis League ini.

Dengan melayani segmen dan bukan pasar secara keseluruhan, League memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk dapat menyampaikan nilai kepada konsumen dan menerima imbalan yang maksimum atas perhatian kepada kebutuhan pelanggan.

Segmentasi Produk Grup Berca

REFERENSI

http://www.league.co.id

http://www.berca.wordpress.com

http://www.berca.co.id